Satpas Polres Tegal (Slawi): Jalur Khusus & Pendampingan, Difabel Berhak Berkendara Aman dan Bermartabat
SLAWI || pilarkeadilan — Jalur ujian praktik yang tertata rapi, lebar, dan mudah dijangkau menjadi bukti nyata perhatian Satpas Polres Tegal di Slawi terhadap warga berkebutuhan khusus. Pemandangan pelamar yang mengikuti ujian didampingi petugas menunjukkan satu hal penting: pelayanan kepolisian tidak boleh memandang fisik maupun keterbatasan. Setiap warga negara yang memenuhi syarat berhak mengikuti ujian, berhak memiliki SIM, dan berhak diakui kemampuannya secara adil — tanpa hambatan yang tidak perlu, tanpa perlakuan yang membedakan.
Penataan jalur dengan pembatas yang teratur, lebar lintasan yang memadai, serta pendampingan langsung dari petugas yang dirancang agar warga difabel dapat mengikuti ujian dengan tenang dan percaya diri. Tidak ada yang dibiarkan bingung atau kesulitan sendirian. Langkah ini bukan sekadar memberi kemudahan — melainkan menegakkan keadilan: setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk bergerak, berkarya, dan berkontribusi, termasuk di jalan raya.
Kehadiran jalur inklusif ini sekaligus menutup pandangan bahwa pelayanan publik hanya dirancang untuk sebagian orang. Di Satpas Slawi, akses yang setara menjadi standar. Baik pelamar biasa maupun yang memerlukan pendampingan tambahan, semua menghadapi ujian yang sama ketatnya, namun didukung kesiapan dan bantuan yang memadai. Lulus berarti mampu, dan mampu berarti mendapat pengakuan.
Kasat Lalu Polres Tegal, AKP Bharatangga Dharuning Pawuri, STK, SIK, MH, menegaskan bahwa pelayanan inklusif adalah kewajiban, bukan amal.
“Difabel bukan objek belas kasihan, melainkan warga negara yang berhak dilayani sama seperti lainnya. Kami memastikan jalur ujian dapat diakses dengan mudah, petugas siap mendampingi, dan penilaian tetap objektif. Tujuan satu: mereka yang mampu mengemudi aman, mendapat SIM. Keselamatan dan keadilan harus berjalan beriringan,” tegas AKP Bharatangga Dharuning Pawuri.
Warga yang merasakan langsung menyambut baik langkah ini. Banyak yang mengaku merasa dihormati sebagai sesama warga negara — tidak sekadar ditolong, melainkan diperlakukan setara. Komitmen ini diharapkan terus dijaga dan menjadi teladan: pelayanan yang adil, akses yang terbuka untuk semua, dan kesempatan yang sama bagi setiap warga untuk melangkah dengan aman.
Komentar (0)
Belum ada komentar.